JURNAL REFLEKSI MINGGUAN 24
JURNAL REFLEKSI MINGGUAN 24 by
Yus Widiantini _ CGP Kota Kupang Angkatan 3
1. Connection:
Apa keterkaitan
materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak? Materi yang
saya dapat terkait dengan mempromosikan suara/voice, pilihan/choice dan
kepemilikan/ownership murid serta menciptakan Lingkungan yang
menumbuhkembangkan kepemimpinan murid sangat berkaitan erat dengan peran saya
sebagai calon guru penggerak yakni menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong
wellbeing ekosistem pendidikan sekolah. Pemimpin Pembelajaran berarti seorang
Guru Penggerak menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang
terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar,
asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah, dll. Yang dimaksud dengan
wellbeing disini terkait dengan kondisi yang sudah berpihak pada murid. Apakah
kondisi tersebut sudah membuat murid nyaman untuk belajar? apakah sudah sesuai
dengan kebutuhan murid? Apakah lingkungan belajar di sekolah sudah cukup
sejahtera agar anak bisa belajar dengan maksimal? Seorang Guru Penggerak
tentunya berperan besar dalam membuat lingkungan sekolah yang nyaman untuk para
muridnya. Jadi seorang Guru Penggerak diharapkan mampu berperan sebagai
pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan memperhatikan segenap aspek
pembelajaran yang mendukung tumbuh-kembang murid. Memppromosikan suara murid
adalah tentang bagaimana saya memberdayakan murid saya agar memiliki kekuatan
untuk memengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan
bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa
seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka
dinilai.
Mempromosikan
suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara.
Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif,
memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya. Mempromosikan
pilihan murid, jika saya menginginkan murid-murid saya mengambil peran tanggung
jawab untuk pembelajaran mereka, maka saya harus memberikan murid
kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar.
Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan
dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar.
, Memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang
dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid.
Sedangkan
kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu
pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat pribadi seseorang dalam
proses belajar. Jadi dengan kata lain, saat murid terhubung (baik secara
fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat
aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka saya dapat mengatakan
bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.
2. Challenge
: Selama
saya mempelajari materi tentang mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan
murid, serta lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, ada materi
atau pendapat dari nara sumber yang berbeda dari praktik yang saya jalankan
selama ini. Kaitannya dengan suara murid, saya tidak pernah melibatkan murid dalam
menyusun kriteria penilaian. Saya pun tidak pernah melibatkan murid dalam
perencanaan pembelajaran apalgi membentuk dewan murid atau komite-komite yang
anggotanya adalah murid untuk memberikan masukan kepada sekolah tentang
berbagai hal. Kaitannya dengan pilihan murid, tidak biasa mengajak OSIS membuat
daftar kegiatan (event), dan memberikan kesempatan untuk memilih mana
kegiatan yang ingin mereka lakukan di tahun ajaran ini. Misalnya saat ingin
belajar tentang topik tertentu, saya tidak mendiskusikan dan membuat daftar
kegiatan apa saja yang dapat mereka lakukan, kemudian meminta murid untuk
memilih mana yang ingin mereka lakukan lebih dulu. Terkait dengan kepemilikan
murid, saya tidak pernah Memberi kesempatan murid membawa sumber-sumber
pembelajaran yang mungkin mereka miliki dan meminta mereka berbagi. Saya pun
kurang memperhatikan lingkungan belajar yang dapat menumbuhkan kepemimpinan
murid
3. Concept
: Konsep
– konsep utama yang saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus dibawa
selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak
antara lain mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam proses pembelajaran
serta pentingnya kemitraan antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat.
Kemitraan ini disebut dengan “tri sentra pendidikan”. Kemitraan tri sentra
pendidikan adalah kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat
yang berlandaskan pada asas gotong royong, kesamaan kedudukan, saling percaya,
saling menghormati, dan kesediaan untuk berkorban dalam membangun ekosistem
pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi peserta didik. Melalui
pemberdayaan, pendayagunaan, dan kolaborasi tri sentra pendidikan ini, maka
keterlibatan yang bermakna dari orangtua dan anggota masyarakat dalam proses
pembelajaran menjadi fokus yang perlu terus diupayakan oleh sekolah. Berusaha
menciptakan kesempatan-kesempatan yang mendorong tumbuhnya dan berkembangnya
berbagai sikap dan keterampilan – keterampilan penting dalam diri murid,
misalnya sikap percaya diri, mandiri, kreatif, gigih, keterampilan berpikir
kritis, dalam berbagai interaksi yang mereka lakukan dengan murid,
Prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam
membangun interaksi murid dengan komunitas untuk dapat mempromosikan aspek suara,
pilihan, dan kepemilikan murid antara lain
v Membangun suasana yang
menghargai murid. Hal ini agar dalam interaksinya dengan
komunitas, murid akan senantiasa merasa disambut. dipercaya, dan aman secara
fisik dan emosional.
v Mendengarkan murid. Agar
dapat tercipta sikap saling memahami dan saling percaya, maka perlu ada upaya
untuk mendengarkan murid dengan tulus dan penuh perhatian. Terkadang mungkin tidak
mudah melakukan hal ini karena tidak semua anak-anak mampu mengekspresikan apa
yang ada dipikirannya dengan jelas. Perlu adanya kesabaran dan empati dari
komunitas.
v Dialog atau komunikasi
dengan murid. Saat membangun pemahaman, murid akan
mengkonstruksi pemahamannya melalui proses refleksi dari pengalaman
interaksinya dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Oleh karenanya,
berkomunikasi dengan murid secara demokratis dan setara menjadi penting.
Komunikasi ini harus bersifat dua arah dan bersifat dialog dengan murid, dan
bukan bersifat orang dewasa yang ‘memberi perintah’ kepada murid. Dengan
meluangkan waktu untuk berdialog dan menanggapi gagasan murid tentang tindakan
mereka, akan membantu murid untuk sampai pada pemahaman.
v Menempatkan murid dalam
kursi pengemudi. Dalam proses pembuatan keputusan, komunitas
dapat memberikan saran atau mendorong ide-ide murid, namun pada akhirnya perlu
memastikan bahwa muridlah yang akan mengambil keputusan
4. Change :
Perubahan dalam diri saya yang
ingin saya lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini yakni
v Membangun
interaksi murid dengan komunitas untuk dapat mempromosikan aspek suara,
pilihan, dan kepemilikan murid
v Membantu
mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid
Komentar
Posting Komentar